“Sepatu Emas Buat Inang”; Wujud Cinta Magdalena Kepada Asmara Nababan

Wujud Cinta Magdalena Kepada Asmara Nababan
Wujud Cinta Magdalena Kepada Asmara Nababan

ThePoliticaNews – Medan – Bukan ungkapan gombal; betapa menyakitkannya seorang anak manusia (baik laki-laki atau perempuan) yang ditinggal pergi pujaan hatinya. Untuk selamanya. Berbagai cara dilakukan guna menghidupkan perasaan cinta itu. Agar perpisahan seakan tak pernah ada.

Aktivis pemerhati anak dan perempuan Magdalena Sitorus adalah salah seorang yang berupaya menghidupkan cinta dan kebersamaan dengan belahan jiwanya yang telah kembali menghadap Sang Pencipta.

Lewat sebuah buku berjudul “Sepatu Emas Buat Inang” (SEBI) rasa cintanya kepada sang suami Asmara Nababan berusaha terus dihidupkan. Beberapa tahun lalu Asmara yang juga mantan aktivis yang pernah menjabat Sekjen Komisi Nasional Hak Azasi Manusia meninggal dunia akibat satu penyakit.

Tentulah bagi Magdalena kehilangan Asmara tidak terlukiskan pilunya. Sulit untuk melupakan atau merelakan Asmara pergi begitu saja. Kendati kehendak Sang Kuasa tak bisa dilawan.

Berkisah pada peluncuran bukunya di Medan, Rabu (19/2), Magdalena menyatakan cerita di dalam SEBI diangkat dari catatan harian atau diary-nya yang pernah dibuat pada 1983-1985.

Ketika itu atas permintaan sang suami dengan “sangat terpaksa” dia harus meninggalkan kehidupannya yang telah mapan di ibukota Jakarta. “Pulang” ke Bona Pasogit di Kota Siborong-borong (Tapanuli Utara).

Kendati lahir di kampung, sejak usia dua tahun Magdalena sudah diboyong ke Jakarta oleh keluarganya. Tumbuh dan berkembang dewasa hingga kemudian diperistri Asmara, nyaris tak pernah terbayangkan olehnya akan kembali ke sana.

“Saya sempat sangat terkejut, mengalami culture shock. Kendati saya asli Batak, tak pernah sekalipun berhadapan dengan cara hidup sebagaimana di desa di Siborong-borong,” kata Magdalena.

Merawat ibu mertuanya (ibu Asmara), itulah tujuan mereka mudik ke kampong. Asmara menyatakan hanya untuk dua tahun. Sebagai putra bungsu yang sangat saying kepada ibunya, Asmara merasa berkewajiban merawat ibu yang melahirkannya.

Mulailah sejak itu drama kehidupan baru dimasuki Magdalena. Sebagaimana dituangkan di diary-nya, tidak sedikit pengalaman hidup yang dijalaninya tidak ditemukan semasa di kota.

Ketegangan dengan ibu mertuanya adalah salah satunya. Walau tidak menjurus pada “perkelahian” yang parah, selalu saja ada “perang” antara mereka.

“Makanya ada kata-kata bijak di orang Batak; siamatuai dongan marbadai, mertua teman berkelahi,” kata Magdalena.

Adat istiadat atau tata cara hidup sesuai tradisi Batak, sistem kekerabatan antar warga yang terbilang unik, adalah contoh-contoh lainnya yang dihadapinya. Pernah satu ketika ada di antara tetangga yang mengambil satu benda mili mereka tanpa permisi apakah meminta atau sekdar meminjam.

“Milik bersama ini, jadi saya juga berhak mengambil. Saya waktu itu kaget mendengar ucapan itu,” kata Magdalena mengenang.

Tetapi semua keterkejutan budaya itu membawa dampak positif bagi Magdalena. Tidak satupun yang tidak berhasil dilaluinya. Bersama sang suami, Asmara. Meski dalam tradisi Batak sebagai menantu dirinya tidak “boleh” terlalu dekat dengan ayah mertua, hal itu tidak berlaku baginya. Justru mereka akrab.

Soal sepatu emas yang dijadikan judul buku Magdalena menyatakan sebagai putra yang paling menyayangi ibunya (Inang) Asmara pernah bermimpi hendak memberikan sepasang sepatu emas kepadanya. Mimpi yang kemudian diceritakan kepadanya dicatat Magdalena di dalam catatan hariannya.

Setelah melalui diskusi yang dilakukan berkali-kali dengan penyunting buku tersebut diangkatlah sepatu emas menjadi judul.

Selain buku terbaru ini, sebelumnya Magda pernah membuat buku berjudul “Semua Ada Waktunya”. Juga didedikasikan untuk cintanya kepada Asmara Nababan.

Leave a Reply