Curhat Terdakwa Korupsi PLN; Dari Tetesan Airmata Hingga “Rapat Sial”

ThePoliticaNews – Rabu, 5/3/2014, 16:30 WIB

Medan – Jelang pembacaan vonis kasus dugaan tindak korupsi di PT PLN Pembangkitan Sumatera Bagian Utara (KITSBU) di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi Medan, kelima terdakwa diberi kesempatan menyampaikan pledoi dan “curahan hati” (curhat)-nya.

Pada sidang Rabu (5/3), tiga terdakwa; Fahmi Rizal Lubis, Robert Manyuzar dan Edward Silitonga, yang mendapat kesempatan pertama membacakan curhatnya. Sehari kemudian, besok (Kamis, 6/3), merupakan giliran Albert Pangaribuan dan Ferdinan Ritonga.

Namanya juga pembelaan terakhir, masing-masing terdakwa berusaha menggugah rasa kemanusiaan alias nurani para hakim agar menggunakan pertimbangan kemanusiaan, hati nurani atau mata hati yang sesungguhnya, serta pertimbangan yang seadil-adilnya, dalam memutuskan.

Bukan apa-apa, keputusan wakil-wakil Tuhan tersebut akan menentukan catatan hidup mereka selanjutnya.

Kendati sesungguhnya curhat tersebut, sama seperti pledoi, juga dibuat pengacara mereka, uraian-uraiannya jauh berbeda. Bukan argumen-argumen hukum yang dikemukakan. Melainkan logika-logika kebenaran yang diharapkan menjadi pertimbangan yang tidak kalah penting bagi keputusan hakim.

Fahmi Rizal Lubis yang mendapat urutan pertama dari dua rekannya; Robert dan Edward, menyatakan tidak pernah menyangka akan menutup karirnya selama berpuluh tahun di PLN. Sebagai wujud cintanya kepada BUMN berlogo petir tersebut dia merasa telah bekerja dan mengabdi sebaik-baiknya.

Kata Fahmi, bekerja di bagian teknis (terakhir sebelum pension menjabat Manajer Bidang Produksi), tak masuk akal kalau dia dituduh ikut dalam persekongkolan tindak korupsi. Sebab dia bekerja di bagian teknis yang segala sesuatunya terukur dengan jelas. Tidak ada sedikitpun yang bisa dipolitisir dengan pekerjaannya.

Ketika ThePoliticaNews.Com mempertanyakan perihal pihak pengadu yang menyebabkan dirinya dijadikan terdakwa dan ditahan, Fahmi yang dituntut hukuman Sembilan tahun penjara oleh jaksa menjawab tidak tahu sama sekali.

“Urusan saya hanya soal teknis, bukan yang lainnya. Di luar persoalan teknis merupakan urusan General Manager,” katanya.

Sesungguhnya Fahmi merasa tidak ada manfaatnya menyampaikan curhat maupun pledoi. Sebab di mata publik yang namanya kejahatan korupsi tidak ada maafnya. Masyarakat akan menghukum habis-habisan tanpa melihat bagaimana duduk persoalan sebenarnya.

Secara bersamaan sehabis Fahmi, hakim mempersilakan terdakwa Robert Manyuzar dan Edward Silitonga yang berbagi curhat.

Robert yang merupakan satu-satunya terdakwa yang masih tercatat sebagai pegawai PLN menyatakan statusnya sebagai pesakitan yang ditahan di Rutan Tanjung Gusta sudah mempermalukan banyak pihak. Istri dan kedua anaknya yang masih berusia belasan tahun, orangtua serta mertuanya, adik-adik dan kerabatnya yang lain.

Itu sebabnya tangisnya pecah ketika mencurahkan isi hatinya. Sambil terisak dan sesekali menyeka airmata. Pembacaan curhatnya sempat terhenti beberapa detik ketika dia harus mengusap matanya.

“Sebagai Ketua Panitia Pengadaan Barang dan Jasa saya telah bekerja dengan bersih, jujur, tulus sesuai penugasan direksi melalui SK No. 100 dan No. 200, saya juga bekerja tanpa imbalan,” kata Robert.

Kata Robert, PLN tempatnya bekerja merupakan perusahaan yang sangat dicintainya. Belasan tahun dia sudah bekerja sengan baik tanpa pernah berbuat cela walau sekecil apapun. Itu sebabnya para teman-teman sekerjanya sangat menyedihkan ketika namanya ditetapkan sebagai salah satu terdakwa.  

Edward Silitonga yang adalah mantan Manager Bidang Perencanaan di dalam curhatnya menyebutkan sama sekali tak tahu kesalahan apa yang menyebabkannya harus mendekam di balik jeruji sebagai terdakwa. Terdakwa kasus korupsi pula. Kasus yang merupakan musuh masyarakat Indonesia.

Edward yang bersama Robert sama-sama dituntut hukuman penjara delapam tahun oleh jaksa menyesalkan sikap Jaksa Penuntut Umum yang sama sekali tidak mempertimbangkan kesaksian-kesaksian para ahli tentang flame tube yang digunakan di GT 1.2 di Belawan.

Edward menyebutkan hanya karena pernah satu kali mengikuti rapat bersama General Manager, itulah yang membuatnya terseret dalam tuduhan korupsi.

“Entah apa rencana Tuhan kepada saya kok bisa ikut dalam rapat itu sehingga saya didakwa melakukan korupsi,” kata Edward yang berusaha tegar.

Seperti Edward, Fahmi yang juga mengikuti rapat merasa menyesal sekali.

“Saya merasa sial ikut rapat itu, rapat sial,” kata Fahmi dengan ekpresi wajah yang datar.

Semelankolis apapun curhatan-curhatan Fahmi, Robert dan Edward, nasib mereka kini ada di tangan ketiga hakim. Hati nurani, logika yang bersih yang berujung pada keadilan, itulah yang mereka harapkan.

Yang pasti para pengacara mereka yang berjumlah lima orang memohon kepada hakim agar membebaskan Fahmi, Robert dan Edward, agar dibebaskan dari segala tuduhan korupsi.

Mari tunggu sidangnya, Senin (10/3), vonis akan dijatuhkan hakim.