Kandidat Ketua Umum HIPMI Bayu Priawan Djokosoetono; Antara Menggalakkan Business Matching dan Menerapkan “KPI” Organisasi

DSC01155Chairman Blue Bird Group Holding, Bayu Priawan Djokosoetono

ThePoliticaNews – Sabtu, 21/6/2014, 12:00 WIB

Medan – Setidaknya sudah terdapat empat sosok calon Ketua Umum BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia periode 2014-2017 yang akan berkompetisi di dalam Musyawarah Nasional mendatang. Satu diantara mereka pasti akan menggantikan Raja Sapta Oktohari yang saat ini masih memimpin. Siapa orangnya, masih terlalu dini untuk mereka-rekanya.

Kemarin (Jumat, 20/6) keempatnya di-“launching”. Persisnya di pembukaan acara “Sidang Dewan Pleno II” HIPMI di salah satu hotel berbintang di Medan. Hadir di acara ini sebanyak kurang lebih 500 anggota HIPMI yang berasal dari seluruh wilayah di Indonesia.

Menko Perekonomian Chairul Tanjung, Menteri Perdagangan Muhammad Luthfi, pengusaha nasional Abu Rizal Bakrie, Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho dan Erry Nuradi, juga ikut meramaikan gawean yang akan menetapkan waktu dan tempat penyelenggaraan Munas tersebut.

Di hadapan para peserta Sidang Dewan keempat kandidat dideklarasikan sebagai bakal petarung (calon) yang akan saling adu strategi guna merebut “tampuk kekuasaan”.  Dengan demikian pertarunganpun “resmi” dimulai.

Adalah Bayu Priawan Djokosoetono yang merupakan salah satu kandidat pengganti Raja Sapta. Lelaki yang dari tampilan luarnya berpembawaan tenang dan terkesan tidak meledak-ledak.

Ditakdirkan menjadi penerus pengelola usaha sektor transportasi yang dirintis keluarganya sejak lama yakni Blue Bird Group Holding, Bayu kini menjabat sebagai Chairman atau pimpinan tertinggi di perusahaan yang berpusat di Mampang, Jakarta Selatan, tersebut. Bila diurutkan dari yang paling atas atau para pendiri, dia merupakan generasi ketiga.

Tentu bukan ujug-ujug atau tiba-tiba serta tidak jelas awal mulanya sehingga Bayu yang lahir pada 24 Mei 1977 tersebut berani mencalonkan diri menjadi ketua umum. Selain usianya masih memenuhi kwalifikasi (37), rekam jejak pengalaman organisasinya juga terbilang cukup baik. Di organisasi bisnis maupun non-bisnis.

Tak cuma menjabat sebagai Bendahara Umum di HIPMI (2011-2014), pada saat yang sama dia juga ikut menjadi pengurus di Kamar Dagang dan Industri (KADIN) pusat. Hingga 2015 jabatan sebagai Wakil Ketua Komite Tetap Bidang Perhubungan dan ASDP diembannya.

Sementara di organisasi yang sifatnya non-profit, Bayu dipercaya menjadi bendahara umum di Kwartir Nasional Gerakan Pramuka hingga 2018 serta wakil bendahara umum Komite Nasional Pemuda Indonesia sampai 2014.

Kalau begitu tak perlulah diragukan kehandalannya memimpin; apapun jenis organisasinya. Pengalamannya hingga kini cukup valid dijadikan bukti.

Namun terang saja tak akan begitu laku Bayu “menjual” dirinya kalau hanya bermodalkan kiprah di dunia bisnis dan sosial agar kelak dipilih menjadi ketua umum. Karena yang akan dipimpin adalah pelaku-pelaku usaha yang notabene sangat dinamis dan memiliki harapan besar tak hanya demi memajukan organisasi. Tetapi juga dunia usaha di Indonesia.

Dibutuhkan rumusan agenda berbasis visi dan misi yang hendak dijalankan yang akan menentukan masa depan organisasi berikut seluruh anggotanya, itulah “dagangan” sesungguhnya. Dengan memiliki agenda yang jelas kemungkinan lelaki peraih gelar Master Bisnis dari Monash University (Melbourne) dipercaya menjadi nakhoda HIPMI akan kian besar.

Kejelasan agenda itu yang coba dijelaskannya kepada wartawan di sela-sela Sidang Dewan. Bayu menyebutkan setidaknya terdapat dua agenda “orisinil” yang akan dilaksakannya manakala terpilih kelak.

“Saya ingin menggalakkan business matching seintens mungkin. Melalui hajatan semacam ini akan tercipta sinergitas yang tinggi antar sesama pengusaha. Ini salah satu yang akan digiatkan,” kata Bayu.

Selain itu, katanya, yang tak kalah penting adalah juga menerapkan key performance indicator di dalam organisasi. Masing-masing bidang di dalam kepengurusan HIPMI akan diukur seperti apa keaktifan dan kreativitasnya dalam menggerakkan HIPMI. KPI biasanya diterapkan di perusahaan-perusahaan demi memacu setiap pekerja agar lebih giat.

“Key Performance Indicator di  dalam organisasi selama ini belum ada dijalankan, saya akan mempraktikkanya,” katanya.

Selain kedua ide tersebut, tentu saja masih terdapat beberapa rencana lainnya yang juga secara serius dan bersungguh-sungguh dijalankan pria yang juga Chairman Mena Alisya Group yang berbisnis di bidang properti, energi, dan makanan minuman ini.

Khusus menyambut penerapan Masyarakat Ekonomi Asean alias Asian Economic Community ini, beberapa langkah secara paralel direncanakan akan dijalankannya demi memperkuat pelaku-pelaku usaha nasional.

Diantaranya adalah mensosialisasikan pemberlakuan MEA hingga ke seluruh daerah di Indonesia. Semua pengusaha harus mengantisipasinya dengan memperkuat diri agar memiliki daya saing yang kuat. Dengan cara itu pengusaha nasional tidak terkalahkan dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bukan sebaliknya menjadi penonton atau pangsa pasar.

“Dengan luas pasar sebanyak 250 juta tentu Indonesia sangat menarik bagi pelaku usaha dari negara lainnya di Asean, kita tidak ingin mereka merebutnya,” kata Bayu.

Dalam kaitan memperkuat pengusaha nasional, Bayu berharap partnership atau kemitraan bisa kian dipererat. Salah satunya adalah dengan cara menerbitkan peraturan berbentuk Keputusan Presiden yang dimaksudkan untuk menguatkan pelaku usaha pemula khususnya di sektor mikro, kecil dan menengah.

Sesungguhnya keinginan diterbitkannya ketentuan tersebut oleh pemerintah sudah tecetus pada periode kepemimpinan Raja Sapta. Karena sampai sekarang belum kesampaian maka Bayu akan meneruskan menyuarakannya.

Menyangkut akses permodalan dan perizinan yang selama ini seperti menjadi “momok” bagi pengusaha-pengusaha yang hendak mengembangkan bisnisnya juga  akan menjadi perhatian pokok bagi Bayu.

“Terhadap usaha-usaha yang marketnya memang jelas, seharusnya akses terhadap permodalan serta perizinan seharusnya tidak jadi persoalan. Supaya pengusaha kita kuat dan berdaya saing,” katanya.

*****