Balada Taxi Berizin yang Cuma Bisa Raup Duit Rp 150.000 Perhari

DSC01193Ketua Keluarga Besar Supir/Pemilik MPU Sumatera Utara, Israel Situmeang (berkaus hitam dan memegang Toa), berusaha menenangkan para supir yang berdemonstrasi menuntut penghentian operasional taxi gelap berpelat hitam di bandara internasional Kuala Namu, di depan kantor Gubernur Sumatera Utara di Jl. Imam Bonjol, Medan, Senin (23/6).

ThePoliticaNews – Selasa, 24/6/2014, 13:45 WIB

Medan – Sempat hendak bertahan berunjukrasa di depan kantor Gubernur Sumatera Utara (Senin, 23/6) sampai tuntutan ratusan supir taxi dikabulkan Gubsu Gatot Pujo Nugroho, akhirnya Hardi (27) balik kanan. Pulang ke bandara internasional Kuala Namu bersama seluruh koleganya.

Bukan kepalang memang kegeraman pengemudi taxi berlabel Matra itu terhadap pengelola bandara internasional Kuala Namu. Sebagai kendaraan resmi bandara seharusnya hanya Matra dan taxi dari empat merek lainnya; Karsa, Puskopau, Nice, dan Pokapura, yang boleh membawa penumpang dari dalam airport. Yang lainnya hanya diperkanankan mengantar.

Adalah Peraturan Gubsu No. 38/2012 tentang Taxi Pemadu Moda Bandara yang menyatakan demikian. Hanya kenderaan umum dari perusahaan berbadan hukum dan memakai pelat kuning yang dinyatakan legal mengangkut penumpang yang baru turun dari pesawat guna diantarkan ke tempat tujuannya. Selebihnya illegal alias gelap.

Akan tetapi legalitas itu tidak didapatkan dengan gratis. Ada kewajiban yang harus dibayarkan.

“Ini bang, untuk mandapatkan stiker bertuliskan “Taxi Bandara” yang dipasang di kaca bagian depan dan belakang setiap taxi yang berizin kami harus membayar Rp 3,5 juta pertahun. Seluruhnya terdapat kurang lebih 400 taxi legal yang memiliki sriker,” kata Hardi menjawab ThePoliticaNews.Com yang memantau di lokasi  unjukrasa.

Namun begitulah rupanya yang lazim terjadi di Indonesia (termasuk Sumut), peraturan tak ditegakkan secara konsisten demi tegaknya keadilan.

Kata Hardi, terhitung sejak pertama kali Kuala Namu dibuka secara resmi menggantikan bandara lama (Polonia), yang namanya taxi atau kendaraan tak berizin alias gelap sudah beroperasi seenaknya menawarkan jasa kepada para penumpang. Umumnya jenis kendaraannya adalah Innova dan Avanza. Berpelat hitam.

Anehnya tak satupun ada petugas bandara yang melarang atau mencegah taxi gelap tersebut beroperasi. Dengan bebas mereka menawarkan jasa kepada setiap penumpang. Jumlahnya tak terdeteksi. Ditaksir lebih banyak dari yang resmi. Dari sinilah “petaka” bermula.

Perlahan para pengendara taxi resmi mulai resah. Bagaimana tidak, penghasilan mereka kian menciut. Jumlah penumpang pengguna jasa mereka kalah dibanding taxi gelap.

“Kami tak sebebas taxi gelap itu masuk hingga ke terminal kedatangan untuk mendapatkan penumpang. Harus mengantri menunggu giliran. Makanya seringkali hanya sekali dalam satu hari kami dapat penumpang, sedangkan taxi gelap bisa empat sampai lima kali,” kata Hardi.

Tak sedikit para supir taxi berizin yang perharinya hanya bisa membawa uang pulang ke rumah sebesar Rp 150.000. Dengan beban pengeluaran yang sangat beragam seperti setoran ke perusahaan, uang makan dan minum, kebutuhan anak istri, dan sebagainya, jumlah tersebut dirasakan jauh dari mencukupi.

Akibatnya protespun tak terhindari. Berkali-kali surat disampaikan kepada General Manager PT Angkasa Pura II sebagai pengelola Kuala Namu. Isinya meminta agar semua taksi gelap di bandara dilarang beroperasi atau menaikkan penumpang. Akan tetapi hasilnya nihil. Tak ada action apapun dilakukan demi merespon kegalauan para supir.

Taxi-taxi gelap tersebut justru seakan-akan dilindungi pengelola bandara. Di lokasi bandara kepada mereka diberi kewenangan mendirikan counter. Artinya Angkasa Pura II memfasilitasi kendaraan-kendaraan yang tidak berizin tersebut.

Mendapat perlakuan semacam itu para supirpun mulai kehilangan kesabaran. Tak lagi menggunakan otoritas bandara untuk menghentikan taxi-taxi gelap, mereka merazia dan menyetop setiap taxi gelap yang masuk ke bandara. Namun cara inipun ternyata tak efektif. Yang ada malah mereka berhadapan dengan polisi.

“Akibat menghalau taxi gelap agar tak beroperasi, kawan kami harus berhadapan dengan polisi. Ditahan. Akibatnya diceraikan oleh bininya karena tak bisa memberikan uang,” kata supir lainnya yakni Surya (37) yang sehari-harinya mengendarai taxi Puskopau.

Sampai disitu “penderitaan” supir taxi berizin tersebut rupanya belum mereda. Malah kian menjadi-jadi. Angkutan berbadan lebih besar berbentuk bis dengan penumpang lebih banyak yakni Damri semakin menggerus penghasilan mereka. Terutama Damri yang memakai mobil perusahaan lain sebagai partner seperti ALS dan Almasar.

“Damri (ALS dan Almasar) sudah terlalu melampaui kelakuannya yang menyusahkan kami. Bahkan mereka tetap beroperasi sampai jam 2 Wib dinihari yakni ketika penerbangan terakhir menurunkan penumpang. Sewa-sewa di pinggir-pinggir jalan juga mereka ambil. Lalu apa lagi bagian supir taxi macam kami,” kata Hardi.

Oleh karena “kesengsaraan” yang sudah tak tertahankan itu kemarahan para supir yang tergabung di dalam Ikatan Sopir Taxi Bandara Kuala Namu International Airport (ISOTARBAN-KNIA) meluap-luap.

Secara maraton mereka berdemonstrasi. Di mulai pelaksanaannya di bandara. Selama tiga hari. Tak mendapat respon apapun terhadap aksi protesnya dari GM Tengku Said Ridwan, “permainan” kemudian dipindahkan. Aksi demo dilanjutkan ke kantor Gubsu di Jl. Imam Bonjol, Medan, Senin (23/6).

“Kami menginginkan Gubernur menghentikan operasional taxi gelap di bandara Kuala Namu. Taxi-taxi gelap itulah biang keladi permasalahan ini,” kata supir lainnya yakni Ipul (45) yang sehari-harinya mengemudikan taxi Puskopau.

Dalam aksinya, para supir taxi berizin memogokkan ratusan kendaraannya persis di jalan di depan kantor gubernur. Seluruh badan jalan ditutup. Terpaksa arus lalulintas dialihkan guna menghindari kemacatan.

Selama enam jam pemogokan berlangsung sebelum akhirnya para supir sepakat untuk berdialog dengan Tengku Said Ridwan di kantor Angkasa Pura di Kuala Namu (Selasa, 24/6). Demonstrasi untuk sementara dihentikan.

Adakah melalui dialog keresahan supir taxi berizin akan terpecahkan? Apakah taxi-taxi gelap akan bebas beroperasi seperti selama ini?

*****