Soal Aksi Saling Klaim Pemenang Pilpres, Gus Irawan: Ini Bukan Pendidikan yang Baik

DSC01599Ketua DPD Gerindra Sumut Gus Irawan Pasaribu

ThePoliticaNewsJumat, 11/7/2014, 18:00 WIB

MedanPilpres usai masyarakat masih harus sabar menanti penentuan pemenangnya sampai 22 Juli mendatang. Kendati sudah bisa menebak-nebak melalui hasil perhitungan cepat atau quick count yang dilaksanakan beberapa lembaga survey.

Persoalannya lembaga survey tak “satu suara”. Hasilnya beragam. Setidaknya tak secara bulat menyatakan bahwa peraih suara terbanyak hanya ada satu; Prabowo-Hatta atau Jokowi-JK. Satu “kubu” menyatakan pemenangnya adalah nomor urut satu, “kubu” lainnya nomor urut dua.

Terlepas dari berbagai perdebatan masing-masing kubu terkait metode perhitungan cepat, legalitas lembaga survey dan tuduhan kepentingan yang terdapat di belakangnya, yang pasti rakyat kebanyakan dibuat “bingung”. Terlebih dari strata menengah ke bawah. “Siapa sekarang Presiden kita?”

Terkait “kisruh” itu kepada ThePoliticaNews.Com yang mewawancarainya Ketua DPD Gerindra Sumut sekaligus Sektretaris Tim Pemenangan Prabowo Hatta, Gus Irawan, menjelaskan pemikirannya. Berikut petikannya.

Apa pendapat anda tentang dinamika Pilpres yang diwarnai aksi saling klaim sebagai pemenang saat ini?

Sebetulnya kalau kubu Prabowo-Hatta bukan mengklaim. Setelah semua data masuk sudah, diambil kesimpulan. Kemudian menyatakan bahwa Prabowo-Hatta lebih unggul. Jadi bukan klaim. Itu sesuatu yang sudah ditunjukkan oleh data.

Berbeda dengan yang di seberang bahwa data quick count yang mereka punya masih di bawah 80% kemudian sudah mengambil kesimpulan. Itu namanya mengklaim. Belum selesai sudah mengambil kesimpulan. Kasihan masyarakat kita.

Saya sudah katakan ini mungkin bagian dari satu desain dari seberang. Mereka mengatakan hanya kecuranganlah yang bisa mengalahkan mereka. Belum lagi main sudah memposisikan diri menang dan kalaupun kalah dikatakan curang. Saya nggak tahu ini gaya-gaya apa.

Saya kira ini bukan kultur budaya yang ada di kita. Dari data yang baru sekitar 70% sudah mengklaim. Ini bagian dari desain. Saya kira memang didisain. Ini membentuk opini ke masyarakat. Ini kan nanti yang menentukan itu hitungan satu persatu surat suara, itu nanti yang menjadi dasar keputusan KPU.

Data yang dimiliki Prabowo-Hatta sampai sejauh ini sudah seperti apa?

Sekali lagi ini bukan mengklaim. Di Sumut dari data hasil quick count 100% sample masuk, 62,17%. Bukan klaim, tetapi hasil perhitungan quick count dengan yang sudah masuk 100% data.

Inilah makanya masyarakat kita diminta untuk lebih cerdas dan dewasa. Tetapi saya kira ini bukan pendidikan yang baik. Tetapi kultur yang sudah kita tinggalkan tahun 1965 sebetulnya. Iya kan. Harus kita bumi hanguskan kultur-kultur yang tak baik itu.

Sekarang ini apa yang dilakukan untuk memastikan suara itu?

Ya pengamanan suara itu. Kan ini sudah selesai di TPS, ada proses di PPS. Dari PPS ke PPK. Dari PPK kemudian KPU kabupaten/kota, provinsi, dan seterusnya. Ini yang kemudian harus kami kawal.

Karena sangat mengherankan jalau hitungan kami melalui quick count yang sample-nya sudah 100% masuk, 62%. Tetapi di media kemudian yang di seberang, mereka mengklaim Sumatera Utara Jokowi-JK yang menang. Ini jomplang, 62%. Ada margin errornya katakanlah 3%. Tapi kan nggak mungkin, angka itu jauh.

Kita nggak tahu apa dasar perhitungan disana. Kalau itu bahagian dari pada quick count yang mereka klaim menjadi pemenang, kan sudah besalahan itu. Kita lihatlah, tak lama lagi mungkin sudah ketemu hitungan riil-nya. Sudah bisa ketemu angka riilnya, mudah-mudahan.

Tapi kan itu bukan versi penyelenggara…

Versi penyelenggara tunggulah tanggal 22 Juli, kan begitu.

Artinya seperti apapun klaim Jokowi-JK, tim Prabowo-Hatta tidak akan pernah mengakuinya?

Tadi saya katakan, hitungan kami Prabowo-Hatta di Sumut 62%. Kata mereka, mereka yang menang.

*****