Caleg DPR RI Terpilih Masinton Pasaribu; Dari Belawan Via Cikini Menduduki Senayan

DSC01639Calon anggota legislatif DPR RI terpilih dari PDI Perjuangan Masinton Pasaribu.

ThePoliticaNews – Minggu, 27/7/2014, 10:15 WIB

Medan – Tak begitu dikenal di kota asalnya Medan atau di daerah tempatnya tumbuh dan besar yakni Belawan (Sumatera Utara), tapi cukup populer di Ibukota Jakarta. Bahkan kota yang terakhir ini pula yang menghantarkannya menduduki kursi terhormat sebagai wakil rakyat di DPR RI.

Dia adalah Masinton Pasaribu. Dilahirkan 42 tahun silam di Kota Sibolga yang tak lain adalah salah satu daerah penyuplai kebutuhan ikan (terutama ikan asin) di Sumut. Ikan teri medan merupakan salah satu penganan khas yang dikenal luas di luar Medan (hingga Pulau Jawa dan wilayah lain di Indonesia) yang dihasilkan di Sibolga.

Walau begitu tak satupun jenjang pendidikan formal yang diselesaikannya di kota tersebut. Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama hingga Sekolah Menengah Atas, semuanya dijalani di daerah yang berada tidak jauh dari Belawan. Tepatnya adalah di Simpang Kantor, Labuhan Deli. Masih termasuk wilayah yang bernaung di bawah Kota Medan.

Baru setelah menjejakkan kakinya di tingkat perguruan tinggi, Belawan ditinggalkannya. Yang dituju adalah Jakarta. Dari Sekolah Tinggi Hukum Indonesia gelar Sarjana Hukum disandangnya.

Namun jangan kira kedudukan sebagai anggota parlemen atau legislatif yang tak lama lagi resmi diembannya bisa dengan mudah direbut ayah dua anak ini. Sebab bukan hadiah atau pemberian, hasil lotre maupun menang undian. Melainkan melalui sebuah perjuangan panjang yang meletihkan karena menghabiskan tidak sedikit tenaga dan mungkin juga uang.

Meneruskan kegetolannya mendorong penegakan demokrasi sebagai aktivis di masa mahasiswa, dia kembali melakoninya sesudah tamat. Kegiatannya tidak jauh-jauh dari yang namanya memberdayakan masyarakat sipil. Melalui organisasi sayap PDI Perjuangan yakni Relawan Pembela Demokrasi aktivitas itu dijalankannya.

Saat berstatus mahasiswa suami dari Rismawaty Sitorus ini terlibat aktif dalam beragam pergerakan meneriakkan terlaksananya reformasi. Di bawah bendera perlawanan Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi Demokrasi atau Famred.

Bersama kelompok-kelompok kritis mahasiswa lainnya di Jakarta, Famred ikut menumbangkan pemerintahan Orde Baru yang dipimpin mantan Presiden Soeharto (1998). Sesudahnya, Masinton kemudian bergabung dengan Forum Perjuangan Pemuda Indonesia (2000). Di dalamnya terhimpun para bekas aktivis kampus.

Menceburkan dirinya bergabung dengan partai berlambang banteng moncong putih, lelaki dengan tinggi tubuh 160-an cm mengawalinya dengan ikut mendirikan Repdem. Bersamanya terlibat beberapa aktivis beken semacam Budiman Sudjatmiko (mantan Ketua Partai Rakyat Demokratik) dan Beathor Suryadi.

Secara berturut-turut pernah menjadi pimpinan Repdem adalah Beathor dan Budiman untuk yang pertama dan kedua. Selanjutnya estafet kepemimpinan berada dalam genggaman Masinton (2011). Selama lima tahun hingga 2016 jabatan tersebut dipercayakan padanya.

Di masa kepemimpinannya kehadiran Repdem di kancah pertarungan politik nasional yang melibatkan PDIP kian strategis. Sering dalam meneriakkan berbagai isu Repdem berdiri di baris depan demi memperkuat partai. Dari kantornya di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, dari situlah seluruh anggotanya termasuk yang berada di daerah-daerah di-manage.

Singkat kata, akhirnya Masinton tak lagi sekedar pegiat Repdem tetapi juga aktivis partai.

Peluang menjadi wakil rakyat dari PDIP yang terbuka baginya tak disia-siakan. Dari daerah pemilihan Jakarta II yang di dalamnya termasuk tempat-tempat pemungutan suara di luar negeri, dia mencalonkan diri. Hidayat Nur Wahid (PKS), Kastorius Sinaga (Demokrat), dan Bondan Winarno (Gerindra), adalah beberapa lawan beratnya.

Untungnya lelaki berkacamata ini rekam jejaknya tidak ada yang buruk di dalam dunia pergerakan. Pergaulannya dengan sesama aktivis pun terjalin baik.

Itu sebabnya oleh sejumlah lembaga swadaya masyarakat seperti Kontras dan ICW, Masinton kemudian dinyatakan sebagai caleg bersih. Namanya direkomendasikan untuk dipilih dan dipublikasikan di dalam website www.bersih2014.net.

Tak banyak caleg yang terpilih masuk untuk dipromosikan di www.bersih2014.net. Terlebih untuk pemilih-pemilih yang bermukim di luar negeri, media itu sangat berguna. Sebab mereka teramat jarang mengetahui orang-orang yang akan dipilih menjadi wakilnya di parlemen.

Dan Masinton pun terpilih menjadi anggota DPR RI 2014-2019.

Lalu apa yang akan dilakukannya sebagai wakil rakyat yang akan berkantor di Senayan kelak, apakah Sumatera Utara sebagai daerah asalnya merupakan bagian dari rencananya untuk didorong kencang kemajuannya?

“Karena saya orang yang lahir dan besar di Sumut, maka Sumut juga menjadi bagian dari yang harus diperjuangkan. Kan nggak boleh melupakan akar, dimanapun kita berada kan tetap dari Sumut,” katanya menjawab ThePoliticaNews.Com yang menjumpainya ketika turun mengawasi penghitungan suara Pilpres di Medan beberapa waktu lalu.

Artinya dia tidak akan menjadi kacang yang lupa akan kulitnya.

Masinton menjanjikan masalah infrastruktur dan pariwisata akan menjadi concern atau perhatian utamanya. Seperti diketahui jalan raya di Sumut banyak yang kondisinya buruk. Padahal sangat vital guna mengoneksikan satu daerah dengan daerah lainnya sehingga arus perputaran barang bisa lancar. Perekonomian bisa berputar.

Pariwisata potensinya di Sumut sangat besar. Jika digarap serius baik oleh pemerintah pusat, maupun provinsi dan kabupaten, pasti akan menjadi sumber pendapatan yang lebih besar bagi masyarakat.

“Salah satunya Danau Toba. Itu menjadi primadona Sumut sampai sekarang. Ikon Sumut yang sampai sekarang belum terpasarkan secara bagus. Padahal itu potensi yang bisa mendatangkan uang lebih besar. Menggerakkan sektor-sektor informal ekonomi masyarakat,” katanya.

Akan tetapi, lanjutnya, potensi itu tidak bisa dijual karena permasalahan infrastrutur. Nggak mungkin orang mau datang berwisata kalau infrastrukturnya buruk. Infrastruktur menjadi sangat penting.

Menurutnya, pemimpin merupakan kata kunci bagi setiap wilayah untuk meraih kemajuan apa saja. Secepat atau selambat apapun.

Oleh karenanya, berkaca pada DKI Jakarta yang dipimpin Jokowi-Ahok, Jawa Tengah oleh Ganjar Pranowo, Surabaya Tri Rismaharini, dan Bandung Ridwan Kamil, Masinton berkeinginan mendorong lahirnya pemimpin daerah yang mempunyai daya kreatif dan inovasi.

Dimatanya, selama ini kepemimpinan di Sumatera Utara standar-standar saja. Tidak ada kreasi maupun inovasi di dalam pembangunan. Misalnya, tidak memiliki kreasi untuk menaikkan PAD. Semuanya sangat standar. Provinsi sebesar Sumut tidak cukup dipimpin orang-orang yang tidak punya daya inovasi serta keberanian eksekusi.

“Sumatera Utara saya pikir butuh dipimpin orang-orang muda yang punya visi, cara berpikir dan bertindaknya keluar dari cata-cara lama. Pemimpin Sumut sekarang ini standar semua, tidak akan bisa membuat terobosan-terobosan baru,” katanya.

Ke depan, Masinton yang berkeinginan duduk di Komisi III atau IX itu merencanakan akan turun mencermati Sumut lebih intens. Satu sampai dua kali dalam sebulan.

Lalu apakah akan ada ciri tersendiri yang akan ditampilkannya ketika menjabat di Senayan agar lebih mudah dikenali masyarakat?

“Kalau kita biasa-biasa saja, komunikasi tetap terbuka. Silaturahmi dengan orang tetap terbuka, biasa-biasa saja. Kita bersih dari perilaku lama orang yang punya jabatan yang cenderung korup. Kita meminimalisir potensi-potensi korup tadi. Masyarakat memilih kita kan bukan untuk korupsi,” katanya.

Menurutnya, perilaku pejabat publik yang cenderung elitis, feodal dan tidak aspiratif, hal-hal semacam itu harus ditinggalkan.

*****