Soal Suksesi Walikota Medan, Marbaga Tampubolon: Jangan Sampai Masyarakat Memilih “Bangkai-Bangkai”

DSC01818Mantan aktivis mahasiswa di Medan pada akhir 80-an sampai 90-an, Marbaga Tampubolon.

ThePoliticaNews – Selasa, 12/8/2014, 02:10 WIB

Medan – Hanya dalam hitungan bulan, tak lama lagi masyarakat kota Medan diperhadapkan dengan pesta demokrasi baru. Yang “terakhir” setelah serangkaian pemilu yang berlangsung secara berturut-turut, dalam waktu sekitar dua tahun. Diawali Pilgubsu pada Maret 2013. Setahun kemudian Pileg 2014 (9 April) dan Pilpres 2014 (9 Juli). Lalu Pilkada Walikota tahun depan.

Dengan pengalaman berkali-kali mengikuti pemilu seharusnya masyarakat tidak lagi gamang. Mengawasi seluruh proses atau tahapan sedari awal hingga akhir yakni penetapan calon terpilih. Yang terkrusial dalam menentukan pilihan siapa yang paling pantas menjadi walikota terpilih. Sebab kegagalan pada beberapa hal penting tersebut akan berimplikasi problematika serius.

Ada kesalahan yang teramat besar jika warga kota Medan kembali  melakukan kesalahan dalam menentukan pimpinannya untuk periode 2015-2020 mendatang. Dua kali pergantian kepemimpinan pasca berakhirnya kekuasaan Orde Baru, kedua pemimpin yang dipilih adalah sosok yang terjerat dalam tindak pidana korupsi. Yang pertama, Abdillah dan kedua, penggantinya, Rahudman Harahap.

Baik Abdillah maupun Rahudman, nasib pemerintahan mereka sama-sama berujung di dalam sel tahanan. Akankah dua jutaan warga Medan belajar dari kecerobohan dan kekonyolan dalam memilih saat pemilihan walikota mendatang?

Kepada ThePoliticaNews.Com mantan aktivis mahasiswa yang cukup dikenal di Medan di akhir era 80-an hingga awal 90-an, Marbaga Tampubolon, menuturkan “advice”-nya kepada seluruh warga yang akan ikut memilih Walikota Medan tahun depan.

Berada jauh di luar Medan tak membuat jebolan Teknik Elektro USU yang oleh sesama aktivis kerap disapa sebagai “Marbegu” ini kehilangan sense atau kepekaan dalam mengkritisi seluruh perkembangan di kota yang lama ditinggalinya ini. Seluruh stakeholder, harapnya, terlibat penuh memampukan rakyat agar menjatuhkan pilihan pada sosok terbaik untuk menjadi walikota pada lima tahun mendatang.

Seutuhnya kutipan wawancaranya melalui saluran telepon dengan ThePoliticaNews.Com adalah sebagai berikut.

TPNC: Pembangunan wacana seputar suksesi Walikota Medan telah dimulai. Sayangnya masih tentang teknis pemilihan seperti menyangkut dana. Atau sikap tergoda berbagai kalangan untuk ikut memajukan calonnya. Belum menyentuh soal-soal prinsip. Apa komentar anda?

MT: Banyak elemen yang harus memikirkan kota Medan. Sebab sudah bukan saatnya lagi mencetak pemimpin dengan pola ketergantungan kepada figur. Agar tidak menjadi seperti membeli kucing dalam karung.

Sejak dini Medan sebagai kota yang beranjak dewasa dan matang mempersiapkan diri memilih pimpinannya. Hendaknya semua elemen terlibat, jangan lagi menyerahkan kepada elit. Kalangan independen harus bekerja lebih keras. Semakin banyak kandidat dipersiapkan akan semakin banyak yang bisa dipilih.

TPNC: Kalangan independen seperti pegiat LSM, akademisi atau kelompok masyarakat lainnya sebenarnya sudah membicarakannya. Tapi mereka seperti ikut-ikutan hendak mengajukan calon. Apakah anda setuju?

MT: Boleh saja, sah-sah saja. Asalkan terlebih dulu ditentukan kriteria dan persyaratan agar semua orang tahu. Jangan sampai terpola pemikiran di masyarakat bahwa penentuan pimpinan diserahkan ke mesin partai. Seluruh kandidat dicari track record masa lalunya. Sehingga tidak berputar-putar lagi dimana yang terpilih adalah pemimpin kotor yang akhirnya terjerat oleh kejaksaan atau KPK.

Keterlibatan kalangan independen dan berbagai stakeholder demi mencegah agar masyarakat tidak lagi memilih bangkai-bangkai. Karena soal memilih pemimpin kan bukan trial and error.

Selama ini masyarakat selalu dihadapkan dengan pilihan yang tidak bisa dielakkan. Oleh sebab itu seluruh stakeholder harus lebih dini mengeksplorasi kemampuan, intelektualitas, integritas, moral pribadi, setiap sosok yang dianggap layak mengajukan diri untuk dipilih.

TPNC: Harapan anda terhadap masyarakat seharusnya bagaimana mereka dalam menentukan pilihan?

MT: Harus semakin cerdas. Sekali lagi, agar mereka tidak memilih bangkai-bangkai. Tidak lagi memilih dengan sudut pandang SARA (suku, agama, ras, dan golongan). Kelompok masyarakat terdidik yang harus mendorong ke arah itu dengan tidak bersifat egois.

Akan tetapi saat ini kelompok masyarakat terdidik sudah terkontaminasi dengan kepentingan-kepentingan sesaat. Oleh karenanya memilih pemimpin ideal jadi sebuah tantangan.

TPNC: Kalau begitu harus bagaimana?

MT: Mulai sekarang ubah cara berpikir, libatkan seluruh elemen masyarakat. Harus belajar dari kegagalan memilih walikota-walikota terdahulu. Sebab pemilihan Walikota Medan akan jadi tolak ukur dalam pemilihan kepela-kepala daerah lainnya di Sumatera Utara.

Selama ini semuanya terjadi seperti tiba-tiba, orang baru ribut ketika Pilkada akan berlangsung. Para pemangku kepentingan, pegiat anti korupsi, harus sudah mulai membicarakannya sebelum kalayak ramai memperbincangkan, Medan harus dipimpin figur seperti apa?

*****