Kolaborasi Seniman di Dolok Sipiak untuk Mengembalikan Minat Wisatawan terhadap Parapat

Geopark RKI3Para peserta lomba melukis pada event Pagelaran Seni “Dolok Sipiak” di Ajibata (Parapat, Sumatera Utara, 6-7/12) terlihat tengah serius menorehkan coretan tangannya. 

ThePoliticaNews – Senin, 8/12/2014, 11:00 WIB

Medan – Pernah “berjaya” sebagai kota tujuan wisata hingga era 80-an, kini kota Parapat (Sumatera Utara) yang berada di kawasan Danau Toba tak lagi favorit. Semula tak cuma wisatawan lokal yang berduyun-duyun datang kesana, tetapi juga mancanegara atau internasional.

Selain kesejukan hawa berikut keindahan panorama danau vulkanik terbesar di dunia yang terhampar di Danau Toba, aneka pagelaran seni budaya menjadi sajian yang komplit bagi para pengunjung. Ketika itu di Dolok Sipiak yang berlokasi di Ajibata, pertunjukan etnik Batak secara intens ditampilkan.

Pembina SENAPAS Corry Paroma Panjaitan menyatakan di tahun 60-an Dolok Sipiak dipergunakan sebagai Taman Ria. Kemudian berubah menjadi Sanggar Seni Simalungun di era 80-an.

Tetapi sekarang ini event-event seni budaya tradisional itu tak ada lagi. Ditambah lingkungan di kawasan Danau Toba yang kian memburuk akibat merebaknya usaha kerambah jaring apung baik yang dijalankan oleh warga setempat maupun perusahaan asing (PT Aquafarm Nusantara), maka kunjungan para pelancong pun merosot tajam. Terjadi penurunan drastis.

Sekelompok pegiat seni dan budaya memprihatinkan kondisi tersebut. Bersama Rumah Karya Indonesia yang pernah menggelar “Jong Batak Art Festival” mereka berniat mengembalikan Danau Toba khususnya Parapat sebagai destinasi wisata yang ramai dikunjungi.

Oleh RKI, dimulai Sabtu pekan lalu (6/12), diselenggarakan serangkaian pentas seni budaya di Dolok Sipiak yang melibatkan sejumlah seniman untuk berkolaborasi.

Diantaranya ada Monolog Teater oleh Agus Susilo dari teater Rumah Mata. Dia menampilkan cerita tentang kondisi sosial masyarakat yang hari ini lebih menomorsatukan materi daripada mutu kehidupan.

Juga terlibat Cress Film yang tak lain merupakan komunitas film Karo, Sotardok Art, Literasi Sumatera, Tataring, musisi jalanan Hendra Ginting dan Komunitas Seni Naposo Parapat (SENAPAS).

“Kesamaan misi untuk Bona Pasogit (tanah leluhur) yang dimiliki sekelompok anak muda yang berasal dari berbagai latar belakang aktivitas seni demi mengembangkan Bona Pasogit, itulah yang mendorong lahirnya event seni budaya ini,” kata Sekretaris Jenderal RKI Jhon Fawer Siahaan dalam rilisnya kepada ThePoliticaNews.Com.

Pemutaran film bertajuk “Sebelum Pagi Terulang Kembali” oleh Lasja F. Susatyo yang bertujuan mensosialisasikan gerakan anti korupsi ikut memeriahkan event ini. Selain itu juga melukis bersama anak-anak sekolah demi menanamkan kecintaan pada seni melukis sejak dini.

Lalu menulis puisi tentang Danau Toba bersama pengunjung yang berisi petisi untuk Tao (danau) Toba. Kelak puisi-puisi tersebut akan dimuat di dalam buku antologi puisi “Seribu Sajak Tao Toba” edisi kedua. Antologi serupa yakni edisi pertama sebelumnya pernah diterbitkan oleh Jhon Fawer Siahaan.

“Dolok Sipiak sangat dibutuhkan saat ini sebagai ruang kreatifitas bagi pemuda Parapat yang kelak dapat berdampak akan perkembangan Parapat sebagai kota tujuan wisata,” kata Irwan Sirait dari SENAPAS.

Salah seorang warga yang berdomisili di Parapat Sandro Simamora berharap kegiatan seni Dolok Sipiak diadakan secara berkala guna membangkitkan kreatifitas generasi muda. Hanya lewat kegiatan-kegiatan seperti itulah pemuda jadi cinta akan budaya dan juga cinta lingkungan.

*****