Dituntut 2 Tahun, Pendukung Eveready Sitorus Sempat “Kepung” Ruangan Hakim

SAM_0249Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan untuk sidang dakwaan penggelapan dan penipuan oleh anggota Komisi DPRD Provinsi Sumatera Utara Eveready Sitorus, Parlindungan Sinaga (kanan).

ThePoliticaNews – Rabu, 28/1/2015, 14:50 WIB

Medan – Tak terima Eveready Sitorus dituntut dua tahun penjara, puluhan pendukungnya yang kebanyakan terdiri dari ibu-ibu histeris. Sambil meneriakkan kata-kata penolakan atas tuntutan tersebut, mereka sempat “mengepung” ruangan hakim selama beberapa saat.

Demikian pemandangan yang terlihat seusai sidang pembacaan tuntutan atas tuduhan melakukan penggelapan dan penipuan di Pengandilan Negeri Medan (Rabu, 28/1) kepada Eveready.

Oleh Jaksa Kejari Medan, Maria Tarigan, atas tuduhan yang didakwakan kepada Eveready yang masih menjabat sebagai anggota Komisi A DPRD Sumatera Utara, dia dituntut dua tahun. Anehnya pembacaan tidak didahului pertimbangan-pertimbangan sebagai alasan guna menetapkan tuntutan.

Berdasarkan pantauan ThePoliticaNews.Com di ruang sidang, terdapat “keanehan” lainnya saat persidangan berlangsung. Dari Rutan Tanjung Gusta tempat Eveready ditahan, hanya dia seorang yang dijemput. Tiba sekitar pukul 09.26 di PN Medan, Eveready langsung diboyong ke ruang sidang yakni ruang Cakra V.

Padahal biasanya tahanan yang akan mengikuti persidangan di hari yang sama digiring dari Rutan secara bersama-sama.

Karena hanya membacakan tuntutan, tanpa pertimbangan-pertimbangan yang terdiri atas bukti-bukti dokumen dan keterangan para saksi, sidang berlangsung singkat. Cuma sekitar empat menit, dari pukul 09.44 Wib sampai 09.48 Wib.

Seketika setelah sidang ditutup oleh Ketua Majelis Hakim Parlindungan Sinaga, pengunjung sidang yang terdiri atas pendukung Eveready berteriak histeris. Mereka yang kebanyakan para ibu-ibu meminta agar hakim menegakkan keadilan.

“Tolong pak hakim…, tegakkan keadilan. Tanah sudah dikuasai PT Rapala (induk perusahaan PT Sri Timur) dan kelapa sawit yang ditanam diatasnya sudah berbuah pasir. Apa lagi yang mau digugat, bebaskan anak kami pak hakim,” teriak Teti boru Purba yang sedari pagi sebelum sidang dimulai sudah hadir di PN Medan.

Tak cuma di ruang Cakra V, pendukung Eveready juga membuntuti Parlindungan dan dua hakim anggota lainnya ketika hendak memasuki ruangannya yang berada persis di seberang ruang sidang.

Istri Eveready yakni Helmi Pangaribuan dan para ibu-ibu lainnya “mengejar” Parlindungan sampai di pintu ruangannya. Secara bersamaan mereka meminta agar hakim berpihak kepada keadilan. Bukan uang.

“Pak Eveready orang baik, jujur dan suka menolong, tidak mungkin dia melakukan penipuan dan penggelapan. Tolong bapak hakim, bebeskan Pak Everady….,” kata pendukung lainnya, Rasma Sitorus.

Selama beberapa menit hingga pukul 10.02 Wib mereka berkerumun di depan ruang hakim berharap bisa bertemu dengan Parlindungan untuk menyampaikan pembebasan Eveready.

Tak pelak Parlindungan yang kemudian keluar dari ruangannya nyaris emosi. Dengan dikawal dua petugas keamanan (Satpam) pengadilan dia coba menghindari “serbuan” pendukung Eveready. Sesaat dia sempat menoleh ke belakang dengan air mukanya yang menggambarkan tengah marah.

Hakim merencanakan sidang berikutnya akan dilangsungkan Senin (2/2) pekan depan dengan agenda pembacaan pembelaan oleh Eveready.

*****