Aniaya Wartawan “Andalas”, Kapolresta Medan Diminta Menghukum Anak Buahnya

DSC01244Sejumlah wartawan tengah melakukan aksi protes terhadap Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho beberapa waktu lalu.

ThePoliticaNews – Selasa, 7/4/2015, 19:21 WIB

Medan – Merespon penganiayaan yang dilakukan sejumlah anggota kepolisian dari Sabhara Polresta Medan terhadap wartawan suratkabar “Andalas”, Thamrin Samosir, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan meminta agar Kapolresta Kombes Nico Afinta Perangin-angin menghukum anak buahnya.

Demikian pernyataan yang disampaikan Koordinator Advokasi Agoez Perdana melalui siaran pers (7/4) yang diterima ThePoliticaNews.Com.

Disebutkan, penganiayaan terhadap Thamrin berlangsung Minggu (5/4). Ketika itu anggota Persatuan Wartawan Indonesia tersebut tengah melakukan peliputan di area Pekan Raya Sumatera Utara di Jl. Gatot Subroto, Medan.

Bermula dari peristiwa penangkapan terhadap seorang pemuda di area PRSU yang tidak diketahui penyebabnya dan kemudian disatukan dengan tiga orang lainnya yang ditangkap lebih dahulu, Thamrin berusaha mencari tahu dengan cara mengikuti. Di tempat tersebut tampak kerumunan pengunjung yang juga ingin mengetahui persoalan yang tengah terjadi.

Thamrin kemudian bertanya kepada para polisi. Akan tetapi bukan jawaban yang didapatkannya, justru pakaiannya ditarik dan kemudian dipukuli. Padahal dia sudah menjelaskan bahwa dirinya adalah wartawan.

Tak hanya seorang. Polisi lainnya yang diperkirakan berjumlah belasan ikut-ikutan menghujaninya dengan pukulan. Diantaranya ada juga yang melempar kepala Thamrin dengan gelas air mineral. Selain pukulan bertubi-tubi, kata-kata umpatan juga disampaikan para polisi kepadanya.

Kemudian peristiwa naas yang dialaminya itu dilaporkan ke Polresta Medan dengan nomor laporan LP/807/IV/SPKT/2015/Resta Medan.

“Aliansi Jurnalis Independen mengecam keras tindakan penganiayaan yang dilakukan oleh sejumlah personil Sabhara Polresta Medan terhadap jurnalis Harian Andalas, Thamrin Samosir. Padahal saat itu ia sedang menjalankan tugas jurnalistik untuk liputan,” kata Agoez.

Menurutnya, tindakan penganiayaan oleh aparat Sabhara tersebut telah melanggar ketentuan pidana pasal 4 ayat 1 dan ayat 3 junto pasal 18 UU Pers No 40 Tahun 1999. Mereka dapat diancam hukuman penjara 2 tahun atau denda Rp 500 juta. Selain itu juga dapat dijerat dengan pasal 351 KUH Pidana tentang Tindak Pidana Penganiayaan.

“Kapolresta Medan diminta mengungkap dan menghukum para pelaku penganiayaan terhadap Thamrin Samosir sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku,” tegas Agoez.

*****