Jong Bataks Arts Festival 2015; Publik Sumut akan Dibius Keanekaragaman Budaya Indonesia

???????????????????????illustrasi.

ThePoliticaNews – Selasa, 20/10/2015, 14:15 WIB

Medan – Setelah sukses pada penyelenggaraan perdana tahun lalu, kembali Rumah Karya Indonesia menggelar event seni dan kebudayaan bertajuk “Jong Bataks Arts Festival”. Selama lima hari berturut-turut, 27-31 Oktober 2015, JBAF akan dilangsungkan di Taman Budaya Sumatera Utara, di Jl. Perintis Kemerdekaan No. 33, Medan.

Mengusung tema “Batakulturasi Nusantara” JBAF 2015 akan diisi penampilan 76 komunitas seni yang siap membius publik Sumut. Mereka akan menampilkan keanekaragaman budaya dalam berbagai bentuk pertunjukan berbeda. Diantaranya pameran seni rupa, wokshop musik tradisi, festivsl film hingga karnaval. Sejak hari pertama hingga penutupan.

“Perhelatan Jong Bataks Arts Festival merupakan upaya meningkatkan eksistensi nilai-nilai kearifan lokal budaya Batak di atas panggung seni,” kata Manager Program JBAF 2015 Ojax Manalu dalam keterangan pers tertulisnya yang juga diterima ThePoliticaNews.

Diusungnya tema Batakulturasi Nusantara, tandas Ojax, adalah untuk mendekatkan nilai-nilai kearifan lokal budaya Batak di wilayah Nusantara. Bukan bermaksud menjadikan Indonesia berbudaya Batak, ini adalah semangat untuk menyatakan bahwa kebudayaan Batak merupakan salah satu pilar penyokong nasionalisme di Indonesia.

Dengan tema tersebut JBAF mencoba memberikan pendidikan kebangsaan kepada generasi muda khususnya dan masyarakat umumnya lewat media seni pertunjukan yang membawa ikon-ikon kearifan lokal budaya Batak dan Nusantara.

“Selama lima hari masyarakat Sumatera Utara akan menemukan ruang wisata budaya sekaligus media alternatif pendidikan karakter melalui suguhan pertunjukan seni berbasis tradisi. Pertunjukan-pertunjukan tersebut menyajikan nilai-nilai kearifan lokal Nusantara. Ini adalah moment penting bagi seluruh elemen bangsa yang ada di Sumatera Utara untuk bergerak bersama dalam ruang kebudayaan yang menjunjung semangat nasionalisme,” papar Ojax.

Hari pertama, 27 Oktober, JBAF akan menyajikan pertunjukan musik dari Lae To Rocks, diikuti Jones Gultom (sastra), Forum Anak Muara (tari dan musik), Martogi Sitohang (musik). Masing-masing mereka menyuguhkan atraksi yang mengusung nilai-nilai kearifan lokal dari tanah Toba.

Hari kedua, 28 Oktober, diisi dengan pertunjukan yang tidak hanya berasal dari Tanah Batak, tetapi Nusantara secara keseluruhan. Persisnya melalui Karnaval Budaya. Selain itu juga Pameran Seni Rupa yang menampilkan karya sejumlah perupa seperti; Mangatas Pasaribu, Togu Sinambela, Farida Lis Purba, Jimmy Siahaan, Adie Damanik, Depi Tarigan dan sebagainya.

Di hari ketiga, 29 Oktober, giliran Teater Rengget yang merupakan bentukan anak-anak pengungsi korban letusan Gunung Sinabung (Karo) menampilkan pertunjukan seni peran. Melalui penampilan ini mereka hendak berbicara tentang harapan dan cita-cita yang hampir sirna karena bencana.

Masih pada hari yang sama, ada pula pengumuman karya terbaik Festival Film Pelajar Sumatera Utara antara lain.

Hari keempat, 30 Oktober, panggung JBAF akan dipenuhi pertunjukan berciri etnis Karo melalui penampilan Otala n Friends, Sanggar Mbuah Page, Hendra Ginting, Simalem Arts, Brevin Tarigan, Hendrik Perangin-angin, Idris Pasaribu, Murni Surbakti. Akan ada pula pemutaran film “Rp.1000” karya Ori Sembiring.

Pertunjukan yang lebih semarak hadir pada hari penutupan, 31 Oktober. Akan tampil pertunjukan sub-etnik Batak; Mandailing, Simalungun, Pakpak, Angkola dan Toba. Para penampil adalah Sanggar Kreatif Naposo Nauli (Siantar), Indah Bunda Dzibril, Samoland Dance, Tampe Mangaraja Silaban, Dihar Simalungun, Sanggar New Jolo dan Irwansyah Harahap.

Seluruh pertunjukan kesenian JBAF setiap harinya berlangsung pukul 14.00-22.00 Wib.

******